Rabu, 31 Maret 2010

Belantara Hati Manusia

Belantara Hati Manusia
Bening merinai di atas tulang pipi yang lusuhDada yang terserak tak kuasa menahan dera memburuSetiap detik jerit terdengar lirih menyayat kalbuSetiap jengkal tanah bergeletak mayat membiruAlangkah hina pemandangan yang telanjangi mataku
Mencoba berharap mimpi ini segera berakhir....Berandai ini bukan sebuah realita....Menyibak tabir kegundahan yang melandaMenyingkap semua tanya yang tak kunjung terjawab
Adakah kepal tangan besi yang dapat hancurkan tirani?Adakah seonggok daging mati ini hidup kembali?Akankah belati ini dapat meruncing melawan tragedi?Akankah... Adakah... Bilakah...
Hati yang terbakar dendam gema mencaciHanya mampu mencaci....
Dengar gelegar seruan KitabmuBakar hatimu dengan gelora menjemput syahidmuHunuskan semangat membela saudaramu
Tapi kita hanya diam....Acuh melintas depan paras berdarahAngkuh tertawa melihat deritaBelantara... Ya, inilah belantaraUrus hidup sendiri, atau kau tergilas mati
Bening merinai di atas tulang pipi yang lusuhDada yang terserak tak kuasa menahan dera memburuSetiap detik jerit terdengar lirih menyayat kalbuSetiap jengkal tanah bergeletak mayat membiruAlangkah hina pemandangan yang telanjangi mataku
Mencoba berharap mimpi ini segera berakhir....Berandai ini bukan sebuah realita....Menyibak tabir kegundahan yang melandaMenyingkap semua tanya yang tak kunjung terjawab
Adakah kepal tangan besi yang dapat hancurkan tirani?Adakah seonggok daging mati ini hidup kembali?Akankah belati ini dapat meruncing melawan tragedi?Akankah... Adakah... Bilakah...
Hati yang terbakar dendam gema mencaciHanya mampu mencaci....
Dengar gelegar seruan KitabmuBakar hatimu dengan gelora menjemput syahidmuHunuskan semangat membela saudaramu
Tapi kita hanya diam....Acuh melintas depan paras berdarahAngkuh tertawa melihat deritaBelantara... Ya, inilah belantaraUrus hidup sendiri, atau kau tergilas mati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar